
Sering kita mendapati pertanyaan bagaimana cara membangun datacenter yang baik sesuai dengan kebutuhan dan kecukupan dana yang perusahaan miliki.
Apa saja komponen komponen yang perlu disiapkan dan standard datacenter seperti apa yang perlu kita jadikan acuan.
Dan bagaimana urutan – urutan yang seharusnya disiapkan terlebih dahulu sebelum membangun datacenter.
Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel ini.
Riset lokasi yang tepat
Tahapan awal sebuah perencanaan pembangunan datacenter adalah perlunya dilakukan riset mendalam terhadap lokasi yang ingin dibangun. Apa saja kriteria yang cocok untuk dijadikan sebagai lokasi datacenter.
1. Bebas Banjir
Banyaknya alat – alat elektronik serta data – data penting yang tidak tahan air, maka syarat utama sebuah lokasi dan bangunan yang dirancang untuk datacenter adalah harus bebas banjir.
2. Minim Gempa
Meski tidak bisa dipungkiri bahwa gempa kerap terjadi dan terasa hingga ratusan kilometer namun pusat titik gempa dapat diketahui wilayahnya. Maka sebaiknya area lipatan atau patahan yang sering menjadi pusat gempa sudah selayaknya di hindari sebagai lokasi pembangunan sebuah datacenter.
3. Akses Mudah
Penempatan lokasi juga harus memperhatikan akses terhadap fasilitas datacenter. Lokasi harus dekat dengan pusat data nasional, moda transportasi massal dan juga kelistrikan selain itu juga tidak jauh dengan petugas pemadam.
4. Jauh Dari Area Yang Berbahaya
Perhatikan juga apakah disekitar lokasi datacenter terdapat tempat – tempat yang berbahaya yang dapat memicu ledakan ataupun kebakaran besar. Seperti misalnya stasion pompa bensin, pabrik kimia yang mudah terbakar, dan pabrik lainnya yang rentan mengalami kebakaran.
Perkirakan Kebutuhan Kapasitas Listrik

Dalam membangun sebuah datacenter kita harus mengetahui dan menghitung secara terperinci berapa kapasitas listrik yang dibutuhkan untuk mendukung berjalannya operasional datacenter secara umum.
Beberapa hal yang harus diperhitungkan dan tidak boleh luput adalah komponen – komponen besar di dalam datacenter.
Baca Juga : Apa itu Datacenter ?
1. Sistem Pendingin Datacenter dan Pendukung Operasional Datacenter
Dalam ruang datacenter yang diisi oleh banyak perangkat IT akan menimbulkan panas yang sangat tinggi. Ruang yang panas bisa mengakibatkan kegagalan operasi perangkat – perangkat IT di dalamnya.
Suhu ruang datacenter harus di jaga temperaturnya berada di bawah 25 derajat celcius. Untuk mendukung berjalannya sistem datacenter dengan baik. Maka dibutuhkan sistem pendinginan yang khusus.
Sistem pendingin tersebut diperkirakan memakan konsumsi listrik sebuah datacenter hingga mencapai 43%.
2. Server
Selanjutnya komponen lain yang paling banyak mengkonsumsi listrik adalah server itu sendiri. Setiap server memiliki kebutuhan listrik antara 200 – 500 watt tergantung dari spesifikasi dan jenis server.
Server dengan spesifikasi yang tinggi dan memiliki banyak harddisk serta komponen tambahan di dalamnya akan semakin besar mengkonsumsi listrik.
3. Storage Drives
Konsumsi listrik storage drive juga perlu diperhitungkan. Karena itu merupakan salah satu komponen komputer yang cukup banyak mengkonsumsi listrik setelah motherboard dan CPU.
Berikut data yang kami dapatkan di internet berapa besar konsumsi listrik storage drive.
| Solid State Drive SSD | 0.6 to 2.8 W |
| 2.5″ Hard Disk Drive HDD | 0.7 to 3 W |
| 3.5″ Hard Disk Drive HDD | 6.5 to 9 W |
Tingkat konsumsi bergantung kepada cepatnya putaran disk pada hddisk konvensional. Sedangkan untuk solid state drive itu bergantung pada pembacaan dan penulisan ke dalam memory.
4. Network

Kebutuhan lainnya dalam datacenter adalah infrastruktur jaringan. Dimulai dari router, switch dan perangkat lainnya sebagai pendukung operasional datacenter yang inti.
Network tidak banyak memakan konsumsi listrik dikarenakan jumlah perangkat yang dibutuhkan tidak sebesar server. Dalam sebuah perangkat network bisa mensupport hingga 42 port yang mana masing masing port bisa memberikan koneksi ke satu unit server.
Membangun Datacenter Tier

Bagi perusahaan yang ingin membangun datacenter maka diharapkan juga mengetahui istilah dalam tingkatan fasilitas sebuah datacenter “tier”.
Tier ini akan menunjukkan perbadaan level pada tiap fasilitas yang diberikan oleh sebuah datacenter. Dimulai dari supplay listri, AC dan fasilitas utiliti lainnya.
Hal ini digunakan sebagai standard industri internasional para pelaku industri datacenter. Dengan diketahui datacenter tier ini maka pelanggan bisa dengan segera mengetahui service level yang penyedia berikan.
Standard tier ini terbagi menjadi empat yaitu tier 1 – Dedicated Infrastructure, tier 2 – Redundant Site Infrastructure, tier 3 – Fully Fault-Tolerant, dan tier 4 – Fully Fault Tolerant Site Infrastructure.
Tier 1 – Basic Site Infrastructure
Tier 1 biasanya ditemui pada perusahaan yang membangun data center sendiri dengan menggunakan fasilitas kantor yang seadanya. Dimulai dari listrik , AC dan utility lainnya.
Perangkat IT tersebut hanya dilayani oleh satu jalur distribusi non-redundant atau satu uplink per satu server.
Tier 1 ini memiliki tingkat uptime 99.671% atau dalam setahun memiliki batas gangguan maksimal adalah 28.8 jam.
Fokus operasional pada datacenter tipe ini adalah waktu operasional jam kerja dan dibantu dengan UPS dan generator. Namun ketersediaan tersebut sifatnya adalah optional.
Untuk maintenance pada data center tipe ini maka akan dilakukan shutdown secara keseluruhannya.
Tier 2 – Redundant Site Infrastructure
Menyerupai dengan data center tier 1 namun dengan tambahan redundant infrastructure. Wajib memiliki UPS dan Genset sebagai antisipasi pemadalam oleh PLN.
Selain itu data center tier 2 juga harus dilengkapi dengan raisedfloor dan tingkat uptime 99.741% atau dalam setahun downtime maksimal adalah 22 jam.
Komponen redundant N+1 dan memiliki backup power sehingga waktu downtime lebih singkat. Namun tingkat gangguan akibat bencana bisa dibilang lebih rentan.
Tier 3 – Fault-Tolerant

Datacenter tier 3 berstandar internasional dari segi infrastruktur dan fasilitas keamanan. Memiliki tingkat uptime 99.982% dalam satu tahun waktu downtime maksimal 1.6 jam.
Sumber listrik lebih dari satu dan memiliki multi network link sehingga syarat no shutdown dapat terpenuhi pada datacenter tier 3.
Datacenter harus memiliki raised floor, UPS dan generator cadangan dan juga jalur pengeluaran udara panas dan dingin. Serta semua komponen redundant N+1.
Tingkat kemanannya tinggi karena memiliki sistem keamanan 24 jam dan area bangunan yang tidak rentan terhadap bencana.
Tier 4 – Fully Fault-Tolerant
Sertifikasi datacenter tier 4 ini pada dasarnya hampir sama dengan datacenter tier 3. Namun memiliki tingkat uptime yang lebih tinggi yaitu 99.995% dan waktu toleransi downtime hanya 30 menit.
Tingkat keamanan yang tinggi serta jalur distribusi N+1. Sehingga memiliki tingkat uptime yang lebih baik daripada tier atau tingkata datacenter lainnya.
Penulis juga menyertakan sumber informasi awal mengenai tingkatan datacenter melalui link berikut.